saya-suka-memasak

Saya Suka Memasak

Memasak saya suka banget masak, lebih baik saya disuruh masak dari pada mengerjakan pekerjaan rumah lainnya, jujur! hihi alasannya? kenapa? mungkin karena hobi saya makan, saya sangat suka makan juga menjadi salah satu hobi saya  , setelah saya fikir lebih baik saya bikin sendiri dari pada harus membeli dan mengandalkan orang lain terus, selain harga yang pastinya lebih murah, saya juga bisa membuat dan mengkreasikan dengan ala ala saya , Memasak juga memberikan saya rasa kepuasan tersendiri, apalagi kalau saya berhasil membuat resep sendiri dan masakan saya mendapat pujian

Saya memasak hampir setiap hari apalagi kalau saya mau bereksperimen dengan bahan-bahan dan bumbu yang berbeda sama sekali atau kalau saya kangen dengan ibu saya yang dijakarta. Kadang-kadang saya juga memasak waktu berusaha memecahkan suatu permasalahan. Memasak membantu saya untuk lebih memusatkan diri pada persoalan saya.

Saya tidak tahu pasti kapan tepatnya saya mulai memasak, tetapi saya ingat, dari kecil saya sering melihat ibu saya memasak. Kadang-kadang saya membantu Beliau di dapur, seperti mengiris bawang, memotong sayuran, atau mengulek bumbu. Saya belajar membuat makanan yang mudah. Rasanya bangga sekali, waktu keluarga saya mengatakan bahwa masakan pertama saya rasaya enak sekali. Sejak itu, setiap ada kesempatan saya selalu memasak untuk mereka.

Setelah saya tidak tinggal bersama ibu saya lagi, memasak dengan ibu saya adalah waktu favorit saya. Sambil memasak, kami bercerita dan mengobrol tentang kehidupan saya saat saya jauh dari rumah.

Ibu saya pandai memasak, dan saya beruntung bisa belajar dari Beliau. Beliau mengajarkan bahwa untuk membuat makanan yang enak, kita tidak perlu memakai bumbu yang banyak selama kita bisa memadukan jumlah bahan-bahan yang ada.

Bagi saya memasak merupakan terapi dan seni, suatu bentuk untuk mengekspresikan diri melalui kemampuan mencampur bumbu bahan makanan untuk menciptakan masakah yang sangat lezat dan unik.

Nyatanya memasak memang membuat rasa lapar menguap bersama asap minyak goreng atau rebusan ayam yang menjadi kaldu. Melihat sayur kangkung yang berubah warna menjadi hijau alum, bercampur dengan potongan cabai, bawang, kecap manis dan taburan garam di atas wajan pun menjadi keasyikan sendiri. Sembari berkonsentrasi agar tak kematangan biasanya pikiran mengelana ke mana-mana. Mulai dari urusan hati, bagaimana sayur mayur bisa sampai ke kulkas-kulkas hingga politik. Setidaknya memasak menciptakan ruang diskusi, obrolan serta renungan antara pemasak dan hasil karyanya. Terlebih sambil mengingat-ingat teknik masakan yang dipraktekan Ibu. Cara mengaduknya, besar kecil apinya, sampai akhirnya menyendok sedikit kuah untuk memastikan masakan sudah pas secara kematangan dan rasa atau belum. Sampai makanan siap disajikan, rasanya lapar tak begitu lagi terasa. Rasa kepuasan setelah memasak sudah jadi 50 persen sumber kekenyangan. Apalagi saat teman saya berkomentar atas harumnya aroma masakan. Lebih-lebih apabila mereka mau diajak makan bersama atau sampai minta diajari memasak. Jadi saya rasa salah apabila menganggap seorang ibu memasak hanya untuk suami atau anaknya tanpa melihat betapa proses itu pantas untuk dinikmati juga. Saya pikir Ibu tak sepenuhnya memasak untuk saya dan Bapak, melainkan juga memasak untuk menghidupi kreativitas, kesenangan batin, dan jasmaninya sendiri. Mungkin saja Ibu sampai kini juga memasak masih mengingat-ingat sembari membayangkan resep masakan Nenek. 


Awalnya saya tak yakin soal masak-memasak itu krusial sekaligus romantis sampai di suatu waktu teman saya bercerita soal ibunya yang marah. Memang tak sepenuhnya sama seperti cerita ibu saya tadi, tapi ada kemiripan. Teman saya itu dimarahi ibunya karena membawa pulang lagi bekal yang dimasak ibunya sedari pagi. Memang hari itu  tengah mengadakan syukuran. Otomatis banyak makanan yang bisa diambil dengan porsi sepuasnya alias prasmanan. Setelah sadar bahwa kekenyangan, ia memutuskan tak memakan bekalnya. Dampaknya, teman saya itu seharian didiamkan Ibunya. Perang dingin terjadi. Esoknya ia tak dimasakkan pula. Saya yang lumayan sering memasak  lama-lama saya mencoba memahami kemarahan macam itu. Salah satunya dengan cara menggeser alasan pragmatis (alias pengiritan) menjadi agak romantis. Setelah itu barulah bisa saya rasakan aktivitas makan, terutama memasak, yang ternyata begitu magis. Terlebih ketika masak masakan khas rumah. Ketika mulai menyalakan api, biasanya saya langsung teringat saat-saat membantu Ibu memasak di rumah. Saya yang ditugaskan menjaga proses penggorengan, tak jarang mendengar suara perut lapar Ibu saat memotong bawang atau sayur. Namun saat hidangan siap Ibu seringkali hanya mengambil sedikit porsi. Mengambilnya paling akhir pula.

Menurut saya memasak memang penting, namaun nggak seharusnya perkara tersebut jadi sebuah diskriminasi antara cewek dan cowok sebab,nggaak salah ko kalau cowo justru yang pandai memasak. Makannya terlepas kamu adalah cowok atau cewek tapi tetap saja keterlaluan kalau tidak memasak makanan yang mudah diolah, misalnya telur, jangan sampai kamu seperti wanita malang yang mulai populer 

Beruntung buat kalian yang punya hobi memasak, dengan memasak kalian bisa kreasikan resep yang ada dan membuatnya menjadi baru atakut mencobannya? Kenapa takut, kamu bisa awali dengan mempelajari beagam masakan terlebih dahulu. Resep yang bisa kamu masak seperti beragam oseng – oseng lauk pauk, serta kue.

sekian dari tentang pengalaman hobi memasak saya, janga takut kotor jangan takut bau main kedapur kalau sudah mecobannya pasti seru well penting sekali memasak itu apalagi untuk para wanita 

Ditulis Oleh : Sofi Damayanti

7 Komentar

  1. Karena pada dasarnya wanita itu wajib untuk bisa memasak dan artikel ini sangat membantu untuk para pemula yang ingin memasak.
    Lanjutkan kreatifitas mu

    BalasHapus
  2. Kreatifitas yg bagus. Semangat dalam hal memasak yaaa...

    BalasHapus
  3. Semangaaat. Emg bermanfaat banget apalagi kalo udh nikah yg harus selalu siapin makan buat suami🤗🤗

    BalasHapus
  4. Sangat menarik, karena sangat jarang anak muda saat ini yang gemar memasak. Keseringan anak muda jaman sekarang itu kebanyakan ingin makan secara instan melalui grab/gojek daripada memasak sendiri.

    @baratapamungkas

    BalasHapus

Posting Komentar