dakwah-dengan-pena

Sabtu, 19 Agustus 2017 Rohis SMKN 23 Jakarta  menyelenggarakan suatu acara yaitu SEDATI (Seminar Dakwah Dua Tiga) yang bertempat di ruang aula SMKN 23 Jakarta  dengan tema “Dakwah Dengan Pena”. Panitia mengusung konsep kepenulisan tersebut dengan tujuan menumbuhkan dan membangkitkan rasa minat menulis di kalangan remaja muslim. Hal ini merupakan sebagai bentuk dakwah melalui media tulis.

Chairil Anwar berkata “Aku ingin hidup seribu tahun lagi.” Pesan tersebut memiliki arti bahwa suatu karya akan tetap dikenang dan Ilmu yang ditulis akan tetap abadi serta akan tetap bermanfaat, meskipun si penulis telah tiada lagi di dunia ini. Dengan menulis, seseorang akan dikenal abadi dengan karyanya yang bermanfaat bagi orang lain.

Rasulullah SAW pernah bersabda “Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Ahmad, Thabrani, Duruqutni).

Dengan berlandaskan hadist tersebut maka kami Rohis SMKN 23 Jakarta menghadirkan narasumber terbaik dengan karya-karya yang sangat memotivasi yaitu Helvy Tiana Rosa. Beliau merupakan seorang sastrawan, dosen sastra Universitas Negeri Jakarta dan Universitas Indonesia, penulis novel Ketika Mas Gagah Pergi, serta pendiri FLP (Forum Lingkar Pena).

Sasaran peserta dari acara ini adalah pelajar SMA/SMK/sederajat dengan jumlah kuota 150 peserta. Adapun fasilitas yang disediakan panitia untuk peserta terdiri atas snack, bazar, photobooth, doorprize, hiburan seperti marawis, penampilan puisi, dan pastinya materi inspiratif yang disampaikan narasumber. Alhamdulillah ternyata antusias peminat cukup banyak hingga melebihi kuota peserta yang ditentukan pada acara seminar ini
Bunda Helvy (sapaan akrabnya) dalam kesempatan itu mengisi materi pembuka dengan menceritakan kisah gadis kecil di pinggir rel yang hobinya membaca. Karena keterbatasan ekonomi orang tuanya, gadis kecil tersebut tidak dapat membaca buku baru. Gadis kecil bersama dengan adiknya itu selalu diusir ketika berada di toko buku sehingga ia hanya bisa memandangi buku yang ada di dalamnya. Lantas, adiknya menangis karena tidak dapat membaca buku yang ada di dalam toko tersebut. Namun, gadis kecil itu selalu memberikan semangat kepada adiknya dengan berkata “jangan menangis dik, tidak apa sekarang kita tidak dapat membaca buku yang ada di dalam, tapi suatu saat nanti karya kita yang akan memenuhi rak buku ini” dengan penuh keyakinan. Kisah gadis kecil yang sangat memotivasi tersebut ternyata merupakan kisah nyata dari Bunda Helvy Tiana Rosa sebagai  gadis kecil besama adiknya Asma Nadia. Kemudian Bunda Helvy memotivasi peserta dengan perkataannya “Sebelum kamu dakwah bil kalam, maka perbaikilah akidah terlebih dahulu”. Beliau juga mengatakan, bahwa modal menulis itu adalah sakit hati. Artinya dari sakit hati itu bisa menghasilkan banyak karya yang menginspirasi banyak orang dan menulis itu harus berhijrah. Jika kita ingin menjadi penulis yang bisa menggugah hati pembaca itu harus menulis dengan hati. Setelah sudah menggunakan hati maka menulislah dengan wawasan, sehingga kita tahu apa yang kita tulis yang InsyaAllah akan tersampaikan ke hati dan menambah wawasan bagi para pembaca. Beliau juga mengatakan bahwa apapun profesi yang kita miliki, tetaplah menulis. Untuk itu kita harus meluangkan waktu dalam menulis bukan menulis untuk mengisi waktu luang. Sebab kita tahu bahwa di akhir zaman ini banyak kesesatan dan kekeliruan yang dilakukan baik itu dari luar seorang muslim, maupun orang muslim itu sendiri yang keluar dari batas-batas norma agama.

Materi yang dibawakan Bunda Helvy sangat menginspirasi sehingga membuat sesi tanya jawab peserta penuh emosi, dan ketika moderator mempersilakan peserta memberikan kesan pesan, peserta sangat antusias. Salah satunya Friska, siswa kelas XI Akuntansi I sebagai perwakilan dari peserta menyampaikan kesan pesannya, “saya sangat senang dapat hadir di acara ini karena dari pembicara acara Sedati ini saya dan peserta yang lain pasti akan terinspirasi dan terobsesi untuk menulis tanpa memandang profesi. Saya menjadi tahu bahwa belajar tidak harus dari seseorang yang besar. Pesan saya dari acara yang diselenggarakan Rohis SMKN 23 ini semoga dapat terus menghadirkan motivator-motivator dan dapat menumbuhkan rasa ingin menulis”.

Dengan telah terselenggarakannya acara ini diharapkan bagi seluruh peserta yang hadir tidak pulang dengan tangan kosong. Artinya, teman-teman pulang dengan membawa bekal ilmu yang akan diterapkan pada kehidupan sehari-hari baik di sekolah, di rumah, atau di masyarakat. Yaitu dengan meluangkan waktu untuk membaca dan menulis, bukan membaca dan menulis di waktu luang. Dengan ini, teman-teman bisa membagikan ilmunya melalui sebuah tulisan dan ilmu tersebut menjadi ladang amal bagi si penulis itu sendiri.

Ditulis Oleh : Esa Fitri Rokhiyansah

2 Komentar

  1. Dengan terselenggaranya acara SEDATI tersebut, banyak hal-hal positif yang dapat di garap dan dikembangkan. Dari acara tersebut banyak ilmu yang telah di berikan. Semoga untuk kedepannya, acara-acara selanjutnya lebih baik lagi dan menjadi acara yang terbaik sepanjang masa dan hidup. Karna semuanya berawal dari sebuah kesalahan untuk menjadi yang terbaik. So, Good Luck, Dear!
    Dan tentunya, love buat sekolah tercintaku, SMKN 23 jakarta is my everything❤����

    BalasHapus
  2. Semangat dan terus semangat, Esa! Loplop❤

    BalasHapus

Posting Komentar